Sialan, Dilanda Epidemi, China Malah Unjuk Teknologi

Di tengah epidemi virus Corona yang hingga kini telah mencapai 361 orang, dan diperkirakan akan terus bertambah.

Berbagai kisah terus bermunculan, mulai dari kisah mengharukan tentang viralnya video warga Wuhan yang saling berteriak "Wuhan, Jiayou" atau "Wuhan, Bersemangatlah", untuk memberikan support pada sesama warga seperti yang diceritakan akun Instagram ayulrast

"MasyaAllah, terharu sekali malam ini. Tepat pukul 21:15 gasengaja buka jendela, banyak banget teriakan dari masyarakat Wuhan yg bilang "????!" (Wuhan jiayou!) Yang artinya "Semangat Wuhan!" Seketika merinding, campur haru :')))," tulis akun tersebut.

Hingga kisah perjuangan mahasiswa Indonesia yang berusaha bertahan menunggu evakuasi, di tengah semakin menipisnya persediaan makanan di Wuhan.

Tentu saja masih banyak lagi kisah inspiratif lainnya, misalnya tentang dokter yang membantu persalinan wanita terjangkit virus Corona. Atau perawat yang sedang berlibur ke Nepal namun membuang pakaian dari dalam kopernya, hanya agar dapat memuat masker lebih lebih banyak.

Namun yang cukup memancing perhatian dan pemberitaan adalah tentang bagaimana pemerintah China membangun rumah sakit khusus untuk pasien Corona hanya dalam hitungan hari, di lahan seluas 25.000 meter persegi.

Rumah sakit itu disiapkan untuk dapat menampung sekitar 1.000 tempat tidur.

Kok bisa? Ya bisalah. Setidaknya ada dua faktor yang memungkinkan itu semua terjadi.

Pertama, di China itu tidak ada yang namanya tanah pribadi atau perorangan, semuanya milik negara.

Setiap orang dan badan hukum hanya sebagai "pemakai" tanah milik negara. Ketika negara membutuhkan tanah itu, negara dengan mudah mengambilnya kembali dengan membayar ganti rugi aset mereka di atas tanah tersebut secara adil.

Akibatnya, tidak sulit bagi pemerintah China untuk mencari tanah seluas 25.000 meter persegi sekalipun itu di dalam kota Wuhan.

Yang kedua, adalah pemanfaatan teknologi prefabrikasi yakni bangunan yang unsur komponen-komponennya sudah dibuat, diproduksi, bahkan disiapkan di pabrik.

Masih bingung?

Ingat mainan Lego atau Block Puzzle yang bisa kita susun menjadi bentuk tertentu? Nah teknologi prefabrikasi menggunakan prinsip kerja yang sama dengan mainan tersebut.

Jadi bagian-bagian bangunan seperti dinding, lantai, atap, pintu, jendela, dan sebagainya sudah dalam kondisi jadi, untuk kemudian dirangkai di lokasi pembangunan. Meski terlihat gampang, hal ini tentu saja tetap tidak mudah jika tidak ditangani oleh para ahli bangunan.

Teknik pembangunan ini diklaim sepenuhnya aman termasuk dari gempa sekalipun dan lebih murah.

Tidak heran bila pemerintah China berani mematok target 10 hari selesai untuk pembangunan rumah sakit Wuhan tersebut. Targetnya dari dua rumah sakit untuk menangani penderita corona virus, satu rumah sakit sudah bisa digunakan pada 3 Februari 2020, hari ini dan satu lagi siap tanggal 5 Februari 2020.

Sebelumnya, di tahun 2003, China juga berhasil memecahkan rekor tercepat dunia dalam membangun RS Xiaotangshan di Beijing untuk menanggapi epidemi SARS hanya dalam waktu 7 hari.

Pembangunan rumah sakit bukanlah satu-satunya. Pada tahun 2015, China berhasil merenovasi Jembatan Sanyuan di China hanya dalam waktu 43 jam.

Awalnya rencana renovasi jembatan ditargetkan memakan waktu 24 jam. Namun para pekerja malah menemukan kerusakan yang lebih parah. Jadi, renovasi memakan waktu lebih banyak.

Kilatnya proses renovasi jembatan Sanyuan memiliki metode khusus. Caranya, jembatan lama tetap dibiarkan, sementara di dekat jembatan lama itu dilakukan perakitan jembatan baru dengan bongkar pasang dari bahan-bahan yang terpisah.

Baru kemudian jembatan lama dibongkar, dan dua alat ekskavator atau alat pengeruk membantu mengangkut jembatan beton yang baru dirakit seberat 1.300 ton ke tempatnya menggantikan yang lama. Kemudian jalan diaspal dan sudah bisa digunakan kembali.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri, teknik ini sebenarnya bukanlah barang baru. Dikenal dengan nama teknologi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat).

Teknik ini pernah digunakan dalam rekonstruksi permanen sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Daroessalam (NAD) pada awal Desember 2016.

Sebelumnya paska bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh 2004 silam, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atau Kementerian PU pada waktu itu juga menggunakan teknologi RISHA dalam rekonstruksi bangunan rusak dan terbukti saat ini bangunan tersebut masih dalam kondisi baik.

Teknik yang sama juga pernah diterapkan dalam pembangunan Jembatan Holtekamp di Jayapura, Papua. Bentang utama jembatan dibuat utuh oleh PT PAL di Surabaya. Pengiriman bentang tersebut dilakukan secara utuh melalui jalur laut.

Mungkin satu-satunya yang menjadi kendala sehingga penyelesaian jembatan tersebut sempat molor berkali-kali, adalah terkait alotnya permasalahan pembebasan lahan.

Tidak seperti di China di mana tanah dimiliki oleh negara. Di Indonesia, tanah bisa dimiliki secara perorangan. Akibatnya, saat pembebasan lahan oleh pemerintah, terjadi proses tarik ulur negosiasi harga yang tak jarang memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Jadi meski kita telah menguasai teknologinya, masih belum memungkinkan kita "unjuk gigi" dalam hal kecepatan membangun. Setidaknya untuk saat ini.