Loading...

Kisah Bocah 7 Tahun Rawat Ayah Yang Dipasung, Kadang Harus Rela Bolos Sekolah

Loading...

Waktu telah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Selviana Jemalus dan putrinya, Yohana Grestaria Samur atau yang biasa dipanggil Grace, sudah menyelesaikan separuh dari rutinitas pagi hari mereka.

Ibu dan anak itu berbagi tugas. Selvina menanak nasi dan Grace menyapu rumah serta mencuci piring kotor. Beberapa jerigen berisi air yang berderet dekat tempat cuci piring di dalam dapur bukti Grestaria telah pulang dari tempat timba umum.

Sejumlah awak media yang bertamu pagi-pagi di rumah Selviana, Jumat 31 Januari 2020, menemukan hal miris di balik kisah ayah Grestaria yang dipasung karena menderita gangguan jiwa.

Bagaimana tidak terenyuh, walau masih berusia 7 tahun, Grace sudah disiplin membagi waktu untuk beberapa rutinas sebelum berangkat ke sekolah. Paling pertama ia kerjakan adalah timba air dan cuci piring, tapi kadang-kadang juga menanak nasi jika ibunya buru-buru pergi sebagai pekerja serabutan.

Sebelum berangkat ke sekolah di SDK Lidi, tugas wajib yang kudu dilakukan Grace adalah mengantarkan makan pagi untuk ayahnya. Jarak rumah dengan tempat ayah Grace dipasung tak begitu jauh tapi sedikit mendaki dan melintasi pepohonan kemiri. Sedihnya, Grace mengurusi ayahnya sejak ia baru berumur 3 tahun.

Ayah Grace, Ediburga Nalon, berstatus Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Desa Lidi, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terpaksa dipasung, dia ditempatkan di belakang dapur rumah orang tuanya. Pria 42 tahun ini terkena gangguan jiwa sejak 8 tahun silam atau 2 tahun setelah ia pulang merantau sebagai TKI di Malaysia.

Selviana dan Ediburga punya 4 anak, tapi hanya si bungsu Grace yang tinggal di Lidi, sementara tiga kakaknya diasuh kerabat ibunya di Kecamatan Satar Mese. Kondisi itulah yang membuat Grace tanam kaki merawat ayah tercinta.

Tak jarang, Grace rela tidak ke sekolah jika kerjaan lagi menumpuk. Itu karena ibunya Selvina selalu pergi menjadi tenaga kerja harian di kebun orang lain dengan upah Rp25 ribu rupiah per hari.

“Kalau lagi ada kerjaan saya perginya pagi-pagi, saya taunya hanya masak nasi dan Grace yang urus semua dari belakang,” ujar Selviana.

Grace (7 tahun) saat memberi makan ayahnya yang dipasung

Selviana merasa bersyukur memiliki buah hati yang rajin dan mau hidup prihatin serta tidak malu menghadapi stigma. Grace menurut Selvina, merupakan spirit di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit. Lebih dari itu, Grace sudah seperti dokter cilik untuk ayahnya.

“Walaupun hidup susah, yah dicukupkan saja. Makan nasi dengan garam saja sudah bikin kenyang,asal Grace selalu ada untuk bapaknya. Puji Tuhan, dari waktu ke waktu, bapaknya ada perubahan. Itu berkat Grace yang selalu bersama bapaknya, kan banyak bercanda juga dia dengan bapaknya,” tuturnya.

Berharap Grace jadi perawat

Selviana terus bernasar untuk kesembuhan suaminya. Lebih dari itu ia juga berpikir keras untuk pendidikan anak-anaknya kelak, termasuk bagi Grace. Di dalam lubuk hati, Selviana menyimpan asa ingin menyekolahkan Grace menjadi perawat.

“Kalau omong biaya tentu tak punya tapi saya selalu berdoa agar Tuhan kasih jalan supaya anak-anak bisa sekolah. Grace ini yang selalu bilang ingin jadi perawat supaya bisa rawat bapaknya,” harapnya.

Grace (7 tahun) merawat ayahnya yang dipasung
(Foto: VIVAnews / Jo Kenaru)

Diakui Selviana, suaminya rutin minum obat baru setahun terakhir setelah pemerintah menyediakan obat untuk ODGJ di Puskesmas.

“Kalau obat ya, sudah minum selama satu tahun. Tiap bulan kami ambil di Puskesmas, obatnya gratis,” sebut dia.

Sepotong doa untuk ayah

Di sela-sela Grace memberi makan ayahnya tak lupa ia selipkan sepotong doa, kadang dia ucapkan doa itu sembari bercerita yang intinya minta Tuhan kasih kesembuhan. “Eme hang hi papa ngaji aku cupu mai,  dasor ina hi papa (sambil ayah makan saya berdoa semoga ayah sebuh,” ungkap Grace.

Dihubungi terpisah, Wakil Bupati Manggarai Timur, Stef Jaghur mengaku prihatin dengan kisah Grace. Namun ia berharap agar program perawatan ODGJ di Dinas Sosial bisa mengakomodir ayah Grace.

“Mulai tahun 2020 kita alokasikan anggaran perawatan untuk 10 orang ODGJ di Panti Renceng Mose Ruteng, kita upayakan ayah Grace juga ter-cover,” Kata Wabup Jaghur.

Sementara dari sisi pelayanan medis, lanjut Wabup Stef Jaghur, pihaknya akan mengutus dokter dan perawat untuk mengikuti pelatihan perawatan khusus ODGJ tingkat Provinsi NTT.

“Tahun ini kita latih 2 orang dokter dan 29 tenaga medis khusus untuk program penanganan ODGJ. Nantinya kan setiap puskesmas akan dilatih termasuk pendampingan dan pengobatan. Sejauh ini upaya kita seperti itu,” cetusnya.

Dijelaskan Wabup Jaghur, berdasarkan data yang dihimpun Dinkes Manggarai Timur, jumlah ODGJ berjumlah di daerah itu berjumlah lebih dari 400 orang dan 55 diantaranya dalam kondisi dipasung.

Loading...

0 Response to "Kisah Bocah 7 Tahun Rawat Ayah Yang Dipasung, Kadang Harus Rela Bolos Sekolah"

Post a Comment

Loading...