Bakso Tikus di Madiun, Daging Hewan Ini Kerap Diterpa Isu dan Jadi Momok Masyarakat

Masyarakat di Madiun, Jawa Timur sempat heboh dengan unggahan bakso tikus seorang konsumen yang bernama Ajeng. Kejadian yang awalnya diunggah sebagai status WA itu, kemudian menyebar dan akhirnya menjadi viral. Masyarakat pun sempat heboh dengan kabar tersebut.

Belakangan hal tersebut ternyata salah dan tidak terbukti. Ajeng sebagai pengunggah juga telah meminta maaf, seperti yang dikutip dari Regional.kompas.com (02/02/2020). Tak hanya bakso tikus yang kerap jadi bahan kontroversi, beberapa daging hewan di bawah ini juga sempat diterpa isu dan menjadi momok bagi masyarakat.

Daging gelonggongan yang menyasar pada daging sapi

Fenomena daging gelonggongan pada sapi biasanya muncul saat memasuki bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, di mana permintaan masyarakat tengah tinggi-tingginya. Demi menggenjot berat daging, oknum penjual memberi minum pada sapi sebanyak-banyaknya hingga lemas sebelum disembelih. Ciri-cirinya, daging akan terlihat pucat, bertekstur lembek, dan terlihat basah.

Selain itu, harga yang dijual juga terkesan lebih murah dari pasaran. Bahayanya, mereka yang mengkonsumsi daging ini rawan terkena diare. “Efek yang dirasakan biasanya adalah diare. Sebab daging sapi gelonggongan berpotensi mengandung berbagai bakteri. baik dari dari daging sapi sendiri, maupun bakteri air yang dimasukkan secara paksa”, ujar Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian (Disperta) Ngawi drh. Tri Wahyu Yulisetiani

Daging ikan dan ayam yang sempat diduga tercampur formalin

Jika gelongongan kerap ditemui pada daging sapi, lainnya dengan daging ikan dan ayam yang rawan dicampur dengan formalin. Tujuannya tak lain adalah agar daging yang mereka jual terlihat baru, tampak segar, dan tidak mudah busuk. Jika tidak pintar-pintar memilih, jelas konsumen akan terkecoh. Niat membeli daging segar pun pupus karena formalin.

Untuk itu, perlu teknik khusus agar bisa membedakan ayam atau ikan segar dan yang berformalin. Hal yang paling mudah diketahui adalah dari tekstur dagingnya. Untuk ikan mengandung cairan pengawet tersebut, warna terlihat pucat dan teksturnya terasa keras. Sementara pada ayam, dagingnya akan berbau obat dan tekstur dagingnya sangat terlihat kencang.

Daging sapi dan babi yang rawan dioplos

Selain teknik gelonggongan dan penggunaan formalin, para oknum penjual yang licik juga kerap mengoplos daging satu sama lain. Seperti yang terjadi di Gunungkidul pada 2019 lalu, kepolisian setempat mengamankan pedagang yang menjual oplosan daging sapi dan babi. Selain merugikan masyarakat, tentu hal ini sangat tidak menyenangkan bagi mereka yang dilarang memakan daging babi seperti umat Islam.

Dalam kasus di atas, oknum penjual daging oplosan mengolahnya menjadi makanan berupa kikil. Lagi-lagi, tergiur akan keuntungan besar menjadi motif dari perbuatan tersebut. “Harga jual (daging) sapi kan Rp 120 ribu per kilo, dan (daging) babi harganya Rp 60 ribu (per kg), kan selisih itu. Jadi intinya mereka ingin mengambil keuntungan yang lebih besar,” ucap Kapolres Gunungkidul, AKBP Ahmad Fuady yang dikutip dari News.detik.com (23/01/2020).

Sebagai konsumen, masyarakat tentunya bisa lebih jeli dan teliti lagi saat membeli bahan makanan berupa daging hewan. Selain menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, hal tersebut bisa menghindarkan diri dari kerugian atas biaya yang dikeluarkan.